Guru sebagai Penggerak

oleh Zidane Yhandra Devano

Di tengah panasnya ufuk Jakarta, saya memasukkan buku ke dalam tas untuk beranjak pergi dari ruang kelas tiga di suatu SD Negeri. Berbagai pikiran mulai bertabrakan sambil membayangkan angka nol besar yang berada di buku Matematika sejak pelajaran terakhir. Namun, pikiran itu segera lenyap ketika melihat ayah menunggu di depan gerbang sekolah. Saya mendatanginya dengan penuh semangat dan dibalas senyum khas ayah. Saya terdiam menikmati suasana padatnya jalanan kota, lalu seperti biasanya ayah menanyakan bagaimana sekolah. Kemudian, saya menunjukkan nilai yang tertera angka nol besar dan langsung bertanya kembali apakah ayah marah karena belum bisa mengerjakan perkalian sementara teman-teman lainnya sudah bisa. Lalu ia pun tersenyum dan tidak marah sama sekali, suatu respon yang bertolak belakang dari apa yang saya kira.

Beberapa hari kemudian, saya meminta tolong kepada (Alm) Pak Ahmad, guru kelas enam, untuk mengajariku perkalian, lalu dengan senang hati ia akan membantu. Pak Ahmad mengajari saya dengan membayangkan bahwa saya disuruh minum dua obat oleh dokter yang tertulis dosis pemakaiannya, suatu analogi yang masih terngiang dan membuat saya paham matematika sehingga dapat mempertahankan gelar peringkat satu selama enam tahun berturut turut.

Berlanjut ke masa SMP, saya tinggal di asrama sekarang dan jauh dari keluarga. Namun, di sini saya menemukan teman dan para guru yang menjadikan sekolah asrama tempat yang menyenangkan. Kehidupan dan pembelajaran sekolah asrama mengajak saya untuk berpikir kritis. Dan saya menikmatinya. Hingga tiba suatu saat, ketika ada satu materi matematika yang kurang saya mengerti. Saya pun mencoba untuk meminta kelas tambahan. Namun, saya tidak berhasil mendapatkannya karena tidak ada guru yang bersedia. Guru tersebut beralasan bahwa penjelasan sudah ada di buku dan saya bisa memahaminya sendiri dengan saksama. Dan karena respon guru tersebut tidak sesuai dengan yang diharapkan maka sejak saat itu pula saya merasa gagal menjadi siswa dalam memahami matematika.

Itulah pengalaman saya dengan pelajaran Matematika. Saya yang awalnya suka menjadi tidak suka. Tuntunan terhadap seorang guru memang sangatlah berat. Namun, belajar dari pengalaman saya sebagai seorang siswa, respon guru yang tepat dapat mengubah pandangan siswa terhadap suatu pelajaran. Bayangkan, berapa banyak siswa yang menyerah atau bahkan merasa bahwa dirinya tidak bisa memahami suatu pelajaran disebabkan respon guru yang terlihat enggan membantu? Mungkin maksud dari guru bersikap bersikap seperti itu agar anak muridnya bisa memanfaatkan sumber informasi lain seperti buku textbook sekolah. Menurut hasil studi Universitas Oeviedo menunjukkan hasil korelasi positif antara kemampuan pemahaman siswa jika guru memberikan atensi yang lebih  dibanding menyuruh parah siswa memahami materi dalam bentuk tugas sekolah.

Indonesia memiliki  ± 217.270 sekolah dengan jumlah guru ± 2.708.096 serta ± 44.644.261 peserta didik.[1] Namun sayangnya, menurut riset yang dilakukan PISA (Programme for Intenational Student Assesment) pada tahun 2015, Indonesia menempati peringkat ke-62 dari 70 negara di dunia. Angka ini menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia masih amat tertinggal dibanding negara ASEAN lainnya. Begitupula dengan riset yang dilakukan oleh Professor Lant Pritchett dari Harvard Kennedy University pada tahun 2016 terhadap peserta didik berusia 15-18 tahun di Jakarta membuktikan bahwa mayoritas siswa mengalami ketertinggalan dalam hal sains, matematika, dan literasi dibanding negara lain di dunia. Penyebabnya adalah masih buruknya kualitas pendidikan Indonesia. Kualitas pendidikan dapat dilihat dari kualitas sekolah, Kunci utama  pendidikan ialah performa guru. Namun sayangnya performa guru di Indonesia masih sangat kurang. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil Ujian Kompetensi Guru Nasional, yang performa rata-rata guru Indonesia adalah 53,02 dari 100 bahkan kurang mencapai target rata-rata yang diinginkan yaitu di angka 55.

Berkaca dari banyaknya permasalahan serupa, Mendikbud Nadiem Anwar Makarim mencoba untuk mengeluarkan kebijakan baru yaitu Merdeka Belajar untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan pembelajaran di Indonesia dengan menciptakan suasana belajar yang bahagia baik untuk peserta didik maupun guru sebagai pendidik. Merdeka memilki arti kemandirian, kuat, dan hasil yang gemilang, sedangkan belajar memiliki arti pengalaman hidup serta upaya. Dengan demikian, merdeka belajar dapat diartikan sebagai sebuah kegiatan yang membutuhkan komitmen, kemampuan tepat guna, dan pengalaman langsung sehingga menghasilkan perubahan perilaku positif bagi peserta didik maupun pendidik. Implementasi kebijakan ini lebih menekankan pada pemberian kebebasan pada guru dalam rancangan pembelajaran di kelas. Maka dari itu, guru juga diberi kepercayaan untuk dapat merancang sistem itu sesuai dengan perkembangan zaman dan memperhatikan tujuan serta memberikan refleksi dalam melakukan evaluasi pembelajaran sehingga dapat mengembangkan pembelajaran aktif dengan para siswanya. Namun muncul pertanyaan lagi. Apakah setiap guru mampu menciptakan rancangan pembelajaran di kelas sesuai dengan harapan merdeka belajar sehingga meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia?

Untuk mencapai tujuan merdeka belajar maka diperlukan peningkatan performa guru sebagai kunci utama dalam roda pendidikan. Peningkatan performa guru harus diupayakan oleh semua pihak baik lembaga pendidikan maupun peserta didik. Perbaikan performa dapat dilakukan dengan banyak cara, seperti mengikuti penataran guru yang setiap guru diberikan kesempatan untuk berkembang secara profesional dalam kegiatan belajar mengajar. Kemudian, mengikuti Musyawarah Guru Bidang Studi yang menjadi wadah bagi guru-guru untuk saling berproses dan sebagai ajang bertukar ide dalam memadukan gaya belajar yang kreatif, dan yang terpenting dalam peningkatan mutu guru di era “millennium” seperti penggunaan media masa maupun elektronik.  Dengan demikian, dapat membuka pemikiran-pemikiran baru kepada guru dalam mengembangkan sistem pembelajaran di kelas yang aktif dan kreatif. Melalui media ini, guru dapat menerima maupun meningkatkan keterampilan baru sehingga membantu menyelaraskan rancangan pendidikan kreatif dan dinamis yang sesuai dengan peserta didik.

Namun perlu adanya turun tangan pemerintah untuk  mengatasi problematika daerah maupun kawasan  yang belum memiliki prasarana dan sarana pendidikan yang memadai agar dapat berkembang dan mencapai tujuan merdeka belajar. Solusi yang bisa diterapkan dalam hal ini adalah guru-guru menerapkan pembelajaran kontekstual dengan memberikan kesempatan kepada anak didiknya untuk menemukan makna dari pembelajaran dan mengaitkan dengan kehidupan nyata dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai penutup, saya ingin menegaskan bahwa kemajuan bangsa Indonesia tidak akan pernah lepas dari kemajuan pendidikan. Kemajuan pendidikan Indonesia takkan pernah lepas pula dari jasa seorang guru. Saya sebagai salah satu siswa Indonesia berharap bahwa pendidikan Indonesia menjadi bergelora dan program merdeka belajar ini menjadi lompatan budaya pembelajaran bangsa Indonesia yang bahagia, baik pendidik maupun para siswa.

[1] http://jendela.data.kemdikbud.go.id/ diakses tanggal 29 Agustus 2020

Catatan :
Dibuat untuk memperingati Hari Jadi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-75 “INDONESIA MAJU”, sebagai peserta “Lomba Foto dan Artikel Jurnalistik” yang diadakan oleh KEMDIKBUD