Indonesia Ramah Indonesia Bahagia

oleh Danish Rafi Akmadira

Kalian pernah sempat berpikir gak sih, kalau kalian bahagia tidak jadi orang Indonesia? Kalau kalian bahagia, apa sih yang membuat kalian bisa bahagia menjadi orang Indonesia? Pasti banyak kan faktornya, salah satu contohnya pasti karena keramahtamahan orang-orang di Indonesia.

Kalian pasti sering dengar pendapat orang luar tentang negara kita, pasti jawaban mereka tidak lepas dari kata “orangnya ramah-ramah”. Selain itu, paling mereka jawabnya; makanannya enak-enak, pemandangan alamnya juga sangat bagus, dan lain-lain. Tetapi yang menarik perhatian saya di sini adalah kata-kata yang mereka keluarkan tentang “orangnya ramah-ramah”. Menurut saya ada dua faktor yang membuat Indonesia dianggap sebagai negara yang memiliki penduduk yang ramah.

Yang pertama karena menurut saya orang luar itu kebanyakan cuek, sedangkan orang Indonesia itu murah senyum. Jadi kesannya di mata orang luar, orang Indonesia tampak sangat ramah. Yang kedua, adat dan budaya kita mengajarkan orang Indonesia berperilaku santun terhadap siapa pun, termasuk kepada orang asing. Jadi, sebenarnya sudah dari dulu nenek moyang kita mengajarkan tentang sopan santun bahkan kepada orang asing.  Contohnya bangsa Portugis yang saat itu menjadi bangsa pertama yang masuk ke wilayah nusantara. Bangsa Portugis tiba di Malaka pada tahun 1509. Saat itu Raja Portugal mengutus Diego Lopes de Sequiera untuk menemukan Malaka guna menjalin persahabatan dengan penguasanya Sultan Mahmud Syah.

Pada awalnya kedatangan Portugis disambut baik oleh Sultan Mahmud Syah. Namun, komunitas dagang Islam internasional yang ada di kota itu meyakinkan bahwa kedatangan Portugis merupakan ancaman. Kemudian, Sultan Mahmud memerangi dengan menyerang Portugis. Bahkan, menawan beberapa orang. Lalu pada bulan April tahun 1511 Bangsa Portugis menyerang Malaka yang dipimpin oleh Afonso de Alburqueque. Setelah berhasil menguasai Malaka, Albuquerque memerintahkan kapal-kapal yang pertama datang untuk melakukan pelayaran mencari kepulauan rempah-rempah.

Rombongan yang dipimpin Afonso de Albuquerque tiba di Maluku pada 1512. Di sana Portugis disambut baik oleh Kerajaan Ternate yang sedang bertikai dengan Kerajaan Tidore. Tetapi setelah mendapatkan sambutan hangat dari Kerajaan Ternate, Portugis secara perlahan memulai memonopoli perdagangan yang ada di Ternate. Pada saat itu, orang-orang di Kerajaan Ternate tidak mengetahui tujuan utama Bangsa Portugis selain membantu Kerajaan Ternate melawan Kerajaan Tidore adalah memonopoli perdagangan di Kerajaan Ternate.  Oleh sebab itu, mereka menyambut Bangsa Portugis dengan baik.

Dari cerita sejarah tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa orang-orang Indonesia memiliki sifat yang tidak pernah luntur walaupun sudah berabad-abad umurnya bahkan sudah mendarah daging buat Bangsa Indonesia. Yaitu bersikap ramah dan berperilaku santun terhadap siapa saja. Dan inilah yang membuat nama negara kita Indonesia disebut sebagai salah satu negara yang paling ramah di dunia.

Indonesia menempati posisi ke-8 dari total 46 negara dalam daftar subkategori negara paling ramah menurut survei Expat Insider 2019[1] di atas negara Spanyol, Kanada, Malaysia, dan Amerika Serikat. Negara Indonesia juga menduduki peringkat pertama di Asia Tenggara. Disebutkan juga bahwa orang-orang Indonesia mudah sekali untuk berinteraksi dengan orang luar, walaupun pelafalan bahasa asing katanya kurang bagus tapi kita tetap percaya diri supaya bisa berinteraksi dengan mereka. Hal ini tentu membuat kita merasa bangga, tentu saja siapa yang tidak bangga jika negara kita sendiri dicap sebagai negara yang ramah.

Namun apakah keramahan orang Indonesia menjadi tolak ukur kebahagiaan bangsa ini? Ya, karena kebahagiaan menurut saya adalah rasa ketenangan hati yang pada saat itu saya merasa tidak ada tekanan atau beban dalam hidup. Saat kita benar-benar merasa nyaman dengan perasaan kita. Dalam konsep tersebut kita bisa melihat bahwa sikap ramah ini menunjukan kehangatan yang bisa membuat hati menjadi tenang. Saat kita mencoba untuk bersikap ramah, ada energi positif yang mengalir dari dalam diri kita yang kita sebarkan kepada orang lain. Dan membuat orang lain merasakan energi positif tersebut.

Walaupun kita semua tahu bahwa porsi kebahagiaan setiap orang itu berbeda-beda, tapi yang membuatnya sama adalah apabila rasa ketenangan hati kita sudah bisa tercapai. Ada banyak cara mewujudkan agar kebahagiaan kita bisa tercapai. Di sini saya menjelaskan cara paling mudah untuk mencapai kebahagiaan dengan bersikap ramah sesama kita, bahkan terhadap orang asing, di mana pun dan kapan pun.

Karena saya pernah merasakan hal yang sama, ketika saya sedang bepergian menggunakan angkutan umum tidak sengaja saya menginjak kaki penumpang di sebelah saya, spontan penumpang di sebelah saya bilang “maaf, kaki saya keinjek,” sambil tersenyum. Saking ramah nya orang Indonesia padahal saya yang menginjak tapi dia yang minta maaf.

Untuk kedepannya saya berharap agar sifat ramah ini bisa terus terjaga agar tidak hilang dari budaya kita maupun dunia. Karena sejatinya tanpa sikap ramah kehidupan di dunia ini akan terlihat suram,     dan terombang-ambing tanpa haluan.


[1] https://www.farandwide.com/s/friendliest-countries-world-aa0ee1b2420147d7

Catatan :
Dibuat untuk memperingati Hari Jadi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-75 “INDONESIA MAJU”, sebagai peserta “Lomba Foto dan Artikel Jurnalistik” yang diadakan oleh KEMDIKBUD